Kutukan Kesehatan

Ditulis pada, 14 October 2026, 12:33

Kutukan Kesehatan

Kesehatan adalah anugerah terbesar bagi makhluk hidup. Dengan merasakan kesehatan, apa pun yang kita kerjakan sejatinya dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. Setiap orang menginginkan kesehatan, bahkan orang sakit pun selalu mencita-citakan kesehatannya kembali. Hal ini sudah menjadi kebenaran umum di masyarakat. Bahkan dewasa ini, kita bukan lagi sekadar memikirkan bagaimana caranya sehat, melainkan bagaimana cara menghilangkan rasa sakit sepenuhnya—mencapai kesehatan abadi yang berkepanjangan. Dengan sehat abadi, kita meyakini bahwa kita akan tetap produktif dan optimal dalam hidup ini.

Namun, ada sebuah gugatan filosofis yang ingin saya sertakan. Apakah benar kesehatan yang terus-menerus tanpa interupsi adalah anugerah? Atau jangan-jangan, di balik tubuh yang tampak sempurna itu, mengintai sebuah bahaya yang bisa melumpuhkan kita secara diam-diam?

Mengapa sehat terus-menerus itu berbahaya? Salah satu alasannya adalah karena tubuh pada akhirnya akan lupa apa itu rasa sakit, dan lupa bagaimana cara memikirkan diri kita sendiri. Ibarat di era AI saat ini di mana segalanya bisa diautomasi dan berjalan serba otomatis, pada pekerjaan kita, mungkin kita terasing dengan sendirinya; jika rasa sakit pada akhirnya dianggap sekadar bug yang bisa diperbaiki secara otomatis, maka kita akan berhenti memikirkan makna rasa sakit atau memikirkan diri kita sendiri. Tubuh kita, yang awalnya digadang-gadang sebagai sesuatu yang langka dan autentik, kini tereduksi menjadi sekadar alat yang optimal. Dan ini bukan lagi sekadar persoalan baik atau buruk.

Kita perlu menengok pemikiran Emil Cioran dan Friedrich Nietzsche. Keduanya menyadari bahwa penderitaan fisik—entah itu insomnia akut yang dialami Cioran atau rasa sakit kronis yang diderita Nietzsche—justru memaksa manusia untuk kembali melihat ke dalam dan menarik diri dari kebisingan produktivitas tanpa batas atau tuntutan kesehatan yang optimal. Sering kali, hanya penderitaanlah satu-satunya hal yang mampu menyadarkan kita bahwa kondisi sehat justru menjauhkan kita dari diri sendiri. Cioran menyebut bahwa manusia yang tak pernah tersentuh penderitaan akan terjebak pada kedangkalan. Jika kita terus-menerus sehat, kita hanya akan menjadi mesin biologis yang bergerak otomatis tanpa pernah bisa dipaksa berhenti untuk melakukan introspeksi diri.

Memang, pada akhirnya kesehatan ini dipabrikasi dan dilembagakan menjadi sebuah "cita-cita mulia" umat manusia. Para dokter dan institusi medis modern berusaha keras menghapus seluruh rasa sakit—setidaknya itulah yang dikritik secara tajam oleh Ivan Illich. Cita-cita itu tampak bagus di permukaan, namun saat ini justru melahirkan sebuah fobia baru yang disebut oleh Byung-Chul Han sebagai Algofobia: ketakutan patologis terhadap rasa sakit dan penderitaan. Sialnya, ketakutan ini menyebar ke ranah sosiologis. Sebagaimana diulas oleh Carl Cederström dan AndrĂ© Spicer dalam The Wellness Syndrome, jika dulu orang jatuh sakit dianggap sebagai hal yang lumrah, hari ini jatuh sakit dipandang sebagai sebuah kegagalan. Sehat bukan lagi hak biologis, melainkan kewajiban moral agar kita tidak pernah terlihat sakit, lelah, atau rapuh.

Pertanyaannya kemudian: mengapa semua orang begitu terobsesi untuk terus-menerus sehat?

Jawabannya mungkin terdengar dingin: karena kesehatan maupun penderitaan kita telah berubah menjadi alat produksi dan komoditas semata. Pada beberapa sisi, kita pasti mengiyakan hal itu. Para kapitalis tentu mencari pekerja yang sehat, bugar, dan optimal demi kelancaran proses produksinya. Di sisi lain, pekerja yang sehat pun membutuhkan pekerjaan itu demi keberlangsungan hidupnya. Sebaliknya, ketika kita jatuh sakit, industri medis, dokter, dan apoteker melakukan kapitalisasi atas penyakit kita, sebagaimana kita pun membutuhkan mereka untuk sembuh.

Namun, di dalam argumen timbal-balik yang tampak wajar itu, tersimpan sebuah kesalahan yang sangat fatal: kapan semua ini berhenti?

Dari tadi kita hanya berbicara tentang hal-hal yang sifatnya fisik: sakit, sehat, prima, tidak prima, produktif, atau tidak produktif. Baik orang sakit maupun orang sehat dipaksa untuk selalu memikirkan fisiknya. Padahal, ada satu titik krusial di mana kerusakan mental tidak lagi selaras dengan fisik kita. Lebih radikal lagi, kapitalisme kesehatan maupun kapitalisme "kesakitan" sebenarnya tidak pernah benar-benar peduli dengan mental kita—bahkan tidak juga dengan esensi fisik kita. Mereka hanya peduli pada standar fungsional yang mereka tetapkan (agar roda sistem mereka tidak keteteran), dan kita dipaksa untuk terus memenuhinya.

Mari kita ambil contoh ekstrem ketika seseorang terus-menerus sehat. Bangun tidur, berangkat kerja, pulang, lalu mengulanginya selama 10 tahun setiap hari tanpa pernah jatuh sakit secara fisik sedikit pun. Apakah itu wajar? Tidak sama sekali! Dalam pandangan masyarakat umum, itu mungkin terlihat seperti anugerah atau pencapaian. Namun sejatinya, itu adalah sebuah kutukan yang sangat berbahaya.

Ketika fisik kita terus-menerus sehat tanpa celah selama 10 tahun, kita kehilangan alternatif lain untuk keluar dari rutinitas tersebut. Begitu pula sebaliknya ketika seseorang sakit: bangun tidur dan merasakan sakit terus-menerus selama 10 tahun tanpa kesehatan juga tidak wajar sama sekali. Keduanya—baik 10 tahun sehat tanpa jeda maupun 10 tahun sakit tanpa sembuh—memiliki ikatan penjara yang sama besarnya.

Bedanya, ketika kita jatuh sakit, kita masih dipaksa untuk berhenti dan lebih mudah melakukan introspeksi diri, misalnya bertanya "mengapa saya sakit?" atau "apa yang salah dengan hidup saya?". Namun ketika kita sehat terus-menerus, kita kehilangan ruang untuk introspeksi itu. Kita terjebak dalam dilema yang absurd: kita tidak mau sakit, tapi kita sangat ingin istirahat, dan kita tidak bisa.

Akibatnya, muncul sebuah fenomena yang ironis: banyak orang sehat yang diam-diam justru mengharapkan dirinya jatuh sakit, hanya agar mereka punya alasan yang "sah" di mata masyarakat untuk beristirahat. Itu pun, jika akhirnya mereka benar-benar sakit, yang mereka dapatkan hanyalah istirahat fisik, bukan istirahat mental. Tubuh yang terlalu sehat telah menyandera batin kita sendiri.

Maksud yang ingin saya sampaikan melalui gugatan ini adalah satu hal yang sering kita lupakan ketika sedang sehat: keinginan atas rasa sakit, atau setidaknya, kesadaran untuk memikirkan rasa sakit itu sendiri.

Kita harus berani mengakui bahwa "ketidaksakitan" yang berlangsung terus-menerus ternyata menimbulkan efek pengulangan, kejenuhan, dan kepedihan batin yang sama menyiksanya dengan rasa sakit fisik. Kesehatan yang tanpa interupsi telah membius kita menjadi sekadar instrumen yang terus berputar tanpa tahu cara mengerem.

Tentu saja, melalui tulisan ini saya sama sekali tidak menuntut agar kita merusak tubuh atau sengaja mencari penyakit. Namun, ini adalah sebuah wake-up call—sebuah panggilan kesadaran—agar di tengah obsesi dunia yang menuntut kita selalu prima, kita kembali aware terhadap rasa sakit.

Memikirkan rasa sakit saat kita sehat bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan cara kita mempertahankan kemanusiaan kita. Dengan menyadari bahwa tubuh ini bisa rapuh dan batin ini bisa lelah, kita tidak perlu lagi menunggu tubuh kita hancur atau jatuh sakit terlebih dahulu hanya untuk memberi izin bagi diri kita sendiri untuk berhenti sejenak, bernapas, dan kembali memikirkan siapa diri kita sebenarnya.


Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.